Tren Kejahatan Siber di Tengah Covid-19

Di tengah merebaknya pandemi virus Covid-19 kejahatan siber menghantui keamanan digital secara global. Hal tersebut juga dikait-kaitkan dengan tren pertumbuhan penggunaan internet. Dilampirkan dari berbagai sumber seperti Cloudflare, salah satu perusahaan jaringan pengiriman konten multiregional (CDN: Content Delivery Network) terbesar di dunia menyebutkan bahwa terjadi lonjakan tren pada penggunaan internet secara global. Tak tanggung-tanggung, puncak tren atau rekor pertumbuhan tercatat menyentuh angka 150% atau 1.5 kali lipat sejak akhir tahun 2019 saja.

kejahatan siber
Data Tren Penggunaan Internet, Cloudflare

Merujuk pada data diatas, Cloudflare menggunakan sampel dari berbagai negara-negara Uni Eropa seperti Britania Raya, Perancis, Itali, Spanyol dan Portugal. Di dalam data tersebut, Portugal mengalami pertumbuhan yang paling signifikan diantara negara lainnya dengan rekor pertumbuhan tren mencapai 50% selama terjadinya pandemi Covid-19.

kejahatan siber

Sedangkan pada negara dengan lalu lintas internet tersibuk di dunia seperti Amerika, Kanada, Australia, Brazil dan Juga India juga menampilkan tren pertumbuhan yang sama. Yakni dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 40% sampai dengan 50% semenjak awal tahun.

Ancaman Keamanan Digital

Dengan pertumbuhan penggunaan internet yang cukup signifikan ditengah pandemi, maka resiko keamanan digital para pengguna internet-pun kian terancam. Pertumbuhan internet dikhawatirkan juga berbanding lurus dengan pertumbuhan tingkat kejahatan siber (Cyber Crime). FBI pun memberikan tanggapan mengenai hal tersebut. Mereka mengaku telah menerima laporan kejahatan siber sebanyak 4 kali lipat dibanding biasanya. Mengutip laporan FBI:

…tipikalnya, pada masa-masa normal, kami menerima sekitar 1000 laporan kejahatan siber perhari melalui portal online kami. Dan saat ini, kami menerima sekitar 3000 sampai 4000 laporan setiap harinya.

Ada momen dimana kami berharap, seperti yang anda tahu, bahwa penjahat siber tersebut jugalah manusia dan kami-pun sempat berpikiran bahwa dengan menarget dan memanfaatkan kondisi ditengah pandemi untuk keuntungan pribadi adalah perihal yang jangan dilakukan. Dan kenyataannya, sebaliknya yang terjadi.

Penjahat siber ini benar-benar totalitas. Mulai dari penipuan menggunakan nama domain, penipuan mengatasnamakan badan amal, penipuan penjualan masker, pemerasan dan lain-lain. Sedihnya, kejahatan apapun yang dapat anda pikirkan. Penjahat Siber itu sangat kreatif.

sumber kutipan zdnet.

Mengenali Ancaman Digital

Semakin berkembangnya sebuah teknologi, naturalnya, para pelaku bisnis Industri juga mulai memutakhirkan keamanan dalam sistem teknologi mereka. Dan sayangnya, para kriminal siber tersebut secara bertahap juga mengubah taktiknya. Berganti dari yang semula berupa ancaman teknis (technical hack) menjadi ancaman rekayasa sosial (Social Engineering). Dengan kata lain, tren kejahatan siber mulai berpacu kepada pencurian data.

Setelah mengetahui pertumbuhan ancaman keamanan digital yang cukup signifikan, berikut ini adalah ancaman digital yang harus diwaspadai:

  • Rekayasa Sosial: Ancaman ini biasanya digunakan oleh penjahat siber dengan tujuan untuk mencuri data anda sebagai pengguna layanan internet melalui penipuan email, phishing (pemalsuan website) dengan memancing pengguna untuk mengisi data pribadi pada suatu form di dalam sebuah website, penipuan SMS, penipuan telepon dan sebagainya. Ataupun dengan semudah mengorek informasi melalui data yang anda bagikan secara publik di sosial media anda.
  • Trojan: Ancaman ini menggunakan medium virus atau program aplikasi yang telah terinfeksi sebelumnya dengan tujuan untuk mengontrol atau mengambil alih gawai atau device anda dari jarak jauh.
  • Spyware: menggunakan medium virus dalam program atau aplikasi yang telah terinfeksi yang mengancam keamanan digital anda dengan tujuan untuk mengincar data sensitif seperti kata sandi akun, data perbankan ataupun isi email dan percakapan SMS anda.
  • Ransomware: Juga menggunakan medium virus dalam program atau aplikasi yang telah terinfeksi dengan tujuan untuk mengunci file dan berkas-berkas digital berharga pada gawai ataupun device anda yang kemudian meminta sejumlah tebusan dalam nominal tertentu untuk membuka kembali berkas-berkas yang telah terkunci secara digital tersebut.

Sesuai dengan dugaan semula, dengan menganalisa pertumbuhan tren penggunaan internet secara global maka ancaman kemanan digital-pun diduga kuat akan semakin terancam. Data berikut ini merupakan linimasa kejahatan-kejahatan siber global yang tercatat selama pandemi Covid-19 berlangsung:

keamanan digital
Linimasa serangan-serangan siber global

Seperti yang tertera pada data tersebut, ancaman kejahatan siber pun menghantui negara-negara dengan lalu lintas internet yang padat. Hal tersebut dapat dilihat dari bertumbuhnya serangan kejahatan siber pada bulan januari hingga saat ini. Dan juga dapat disimpulkan bahwa kejahatan siber berselang pandemi Covid-19 ini diprediksi akan terus meningkat.

Proteksi Keamanan Digital Anda

Berikut ini adalah langkah-langkah preventif yang dapat memproteksi diri anda dari kejahatan ataupun serangan siber.

  • Selalu konfirmasi pengirim pesan atau infomasi: dengan mengidentifikasi sang pengirim pesan, entah itu pesan melalui email, SMS ataupun pesan dalam platform lainnya. Jika anda tidak mengenal si pengirim, maka berpikir lagi sebelum bertindak.
  • Hanya bagikan informasi yang telah terbukti dan gunakan sumber resmi untuk menghindari penyebaran penipuan, informasi palsu, dan atau pesan yang mengandung unsur palsu secara tidak sengaja.
  • Jangan mengunduh atau menginstal program atau aplikasi dari sumber yang tidak diketahui: Pastikan anda hanya menginstall program atau aplikasi melalui sumber yang dapat dipercaya. Hindari mengunduh file atau berkas dari website pihak ketiga (3rd Party) yang tidak resmi.
  • Jangan terlalu mempublikasikan detail kehidupan pribadi anda: Guna untuk memutus ancaman Rekayasa Sosial (Sosial Engineering).

Pada dasarnya, hanya kesadaran diri anda sendiri yang dapat menjamin keamanan digital anda dari kejahatan siber.

Baca artikel yang lainnya: